Monday, August 31, 2009

Pagi Yang Ijo Royo-royo


Entah dimana istilah Ijo royo-royo itu pernah saya baca, lupa dimana dan kapan. Dimana dan kapan ya...? Ah, sudahlah, tidak mengapa tidak ingat. Yang lebih penting, meski pemandangan yang saya lihat tidak berupa hamparan besar, saya dapat esensi dan rasa "Ijo Royo-royo" itu pagi ini. Suasana segar hijau seperti saat saya melihat pemandangan hijau ketika membuka jendela kamar. Suasana hijau segar itu saya temui juga di jalanan tadi saat berangkat ke kantor. Juga saat tiba di ruangan saya. Pot bunga berisi tanaman mungil yang warnanya hijau, he, Ijo Royo-royo tadi, menyegarkan mata juga pikiran. Freshhhhhhh......!

Begitulah suasana pagi ini. Lumayan semangat setelah kehilangan sedikit selera melihat suasana saling hina dan gontok-gontokan di media, di internet antara kita dan negara tetangga. Betapa patriotisme dan nasionalisme telah dipersempit oleh mereka sedemikian rupa. Lalu dimanakah patriotisme dan nasionalisme itu...!? He, jelas yang tau jawabannya adalah diri kita masing-masing. Bila seorang anak bangsa telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak korupsi, tidak berbuat asusila, menjaga diri dan keluarganya supaya tetap berada di jalan yang lurus di bumi ini mencari ridhoNya, mencintai, menghargai aset budaya leluhur dengan baik, maka bagi saya ia sudah menegakkan dan menjaga patriotisme dan nasionalismenya. Meski, hiks, ia tidak ikut-ikutan larut dalam suasana gontok-gontokan yang menyebalkan itu. Nasionalisme dan patirotisme saya, anda, siapapun, kita semua, bagi saya letaknya pada perbuatan kita menegakkan harga diri bangsa dengan berbuat terbaik yang kita bisa sebagai anak bangsa. Tidak sekedar repot dengan atribut dan simbol-simbol, apalagi debat saling serang dan saling menjatuhkan. Sungguh, sangat sedih melihat Lagu Kebangsaan saya dirubah seenaknya oleh oknum warga negara tetangga kita yang tidak bertanggung jawab. Sama sedihnya takkala melihat sahabat-sahabat saya menghina negara tetangga kita itu dengan hinaan dan kata-kata kasar (tidak perlu saya sebutkan ya). Padahal mungkin ini kesalahan kita sendiri yang selama ini kurang menegakkan harga diri bangsa. Begitu banyak masalah yang masih menjadi pe-er negara kita. Ya, sudahlah. Kapan-kapan ini kita bahasa secara khusus.

Detik ini, di hari ke-10 Ramadhan ini, di meja ini, saya pandangi lagi tanaman mungil saya yang Ijo Royo-royo tadi. Sangat menghibur dan menyegarkan saya. Bagi saya memang fresh kawan. Demikian sedikit catatan pagi saya. Mari kita renungkan bersama bila anda berkenan. Saya mau bekerja lagi ya. Selamat pagi semua. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga hari ini kesuksesan dan kebarokahan menjadi milik kita.

Saturday, August 29, 2009

Padamkan Kobaran Api Itu..........


Api dimana-mana. Berkobar menyala-nyala, seakan siap menggosongkan segala. Entah kapan api itu muncul, tiba-tiba telah kobarannya telah menjadi begitu besar. Kelihatanya semuanya terlihat begitu mudah tersulut api itu. Maka api itu menjadi besar, dan makin besar.

Saya terhenyak, jelas tidak ingin luluh lantak oleh api itu. Saya menarik diri dan menatap api dari kejauhan. Inilah sikap rasional tapi pengecut yang bisa saya lakukan, telah lama itu saya lakukan. Tapi apa yang bisa saya lakukan lagi. Ketika saya membawa sedikit air sekemampuan saya dan menyiramkan ke api itu. Sungguh, pekerjaan yang agak sia-sia. Api yang sudah sangat besar itu tidak bergeming dengan air yang saya bawa. Bebeberapa kepulan api menatap saya dengan tatapan berkilat-kilat penuh amarah, siap menelan saya. Minggir....!, katanya sambil menepiskan saya. Sayapun terjerembab di sudut ini. Ya, sudut kejauhan dimana saya hanya bisa memandang kobaran tadi sebagai kepulan kecil berwarna merah.

Saya pun berpaling dari kepulan merah itu. Lama berpaling sehinga menjadi jengah saat melihat ternyata diman-mana masih ada juga kepulan merah itu. Lalu sang sahabat jiwa berkata, jangan lari, mari kita cari dimana titik apinya. Mari kita pelajari bagaimana cara memadamkan titik api tersebut. saya kembali terhenyak akan ucapan seorang sahabat jiwa saya itu. Betapa saya telah menjadi egois, menjauh dari api itu padahal begitu banyak karib kerabat telah menjadi korban api itu. Maka kamipun berusaha mencari dan mempelajari titik api itu. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Ternyata titik api itu berasal dari diri kita masing-masing. Jangan merasa telah piawai memadamkan api di dada hanya dengan sholat atau berdoa di gereja, atau sembahyang di pura dan kuil, bila setelahnya kita masih merasa menjadi orang/kelompok paling benar dan menganggap orang lain/kelompok lain salah tanpa ada kompromi. Itulah sumber sengketa selama ini. Itulah sumber api. Maka marilah padamkan titik api itu. Bukankah perbedaan adalah rahmah. Bila kita bisa memadamkan api di dalam diri kita, mengisi diri kita dengan air sejuk jiwa yang membasahi kalbu, sebesar apapun api menghampiri kita kita tidak akan terbakar. Bila setiap diri telah menjadi basah dan sejuk dengan jiwa damai, lalu bersatupadu, maka gelombang sejuk dan basah itu akan menjadi kuat dan cukup untuk memadamkan kobaran api.

Apakah semudah itu....? tentu tidak mudah. Memerlukan perjuangan yang panjang dan melelahkan, tapi bila kita ikhlas dan bersungguh-sungguh, pasti berhasil. Begitulah gumaman seorang anak manusia, kebetulan sabahat jiwa saya tentang kobaran api. Ia cuma seseorang yang berusaha agar dirinya dan siapa saja bisa diselamatkan, saat melihat ada kobaran api dimana-mana. Lihatlah di FB dan dimana-mana banyak yang sangat bernafsu menasehati, menceramahi orang lain dengan cara menggurui sehingga menimbulkan keusilan kelompok di seberangnya. Di sisi lain banyak pula kelompok yang mengaku atheist sibuk melecehkan dan menghina agama. Ada pula kelompok yang menamakan diri sebagai kelompok cinta kasih yang menolah agama tapi cara dan gayanya sangat jauh dari cinta kasih yang dia elu-elukan, malah , hiks, seperti preman pasar. Belum lagi masalah dengan negara tetangga kita yang telah menyulutkan api emosi kita. Jadi ajang saling hina, saling gontok-gontokan. Entahlah.

Ini renungan untuk diri sendiri, kata sahabat jiwa saya tadi. Bila ada yang berkenan, mari kita renungkan bersama. Sebelum saya tutup, saya ingin menyampaikan pesan dari sahabat jiwa saya tadi. Mari padamkan kobaran api di sekitar kita seikhlas dan semaksimal yang kita bisa. Mari kita bawa air jiwa nan basah menyejukkan dimanapun kita berada sehingga kobaran api di sekitar kita itu jadi berkurang. Syukur-syukur bila bisa padam sama sekali. Mari mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Selamat melanjutkan hari. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan ke8 hari ini, bagi yang menjalankan. Semoga kebarokahan menjadi milik kita semua.

Friday, August 28, 2009

Kebasahan Titik Hujan Itupun Tiba





Semalam adalah sahur ke-7 di Ramadhan tahun ini. Dan semalam saya dan keluarga sahur diiringi rintik hujan. Tak bisa dihindari, hujan semalam membuat kebasahan karena titik hujan itupun tiba pagi ini. Betapa hujan saja tak bisa kita hindari titik kebasahannya, setidaknya itu bagi saya. Saya, kita semua, punya memori dengan titik kebasahan hujan yang melekat kuat sejak bocah dulu. Bagi saya, he, ini menimbulkan perasaan riang seperti saat kecil dulu takkala menemukan buah mangga ranum yang terjatuh karena hujan dan tiupan angin kencang di kebun nenek. Sayang tidak saya temukan lagi mangga ranum itu pagi ini (hiks, jelas tidak karena tidak ada tanaman mangga di halaman saya).

Sungguh, kebasahan ini menimbulkan rona bahagia di hati saya sobat. Mungkin anda punya perasaan yang sama saat menemukan titik kebasahan hujan menyelimuti pagi anda, atau saat tanaman kesayangan anda diselaputi oleh kebasahan titik hujan. Mari tuangkan disini, kita berbagi rasa. Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan hari ini bagi yang menjalankan. Semoga kebarokahan menjadi milik kita semua.


Thursday, August 27, 2009

Umbu Landu Paranggi Mendekap Yogya dan Bali


Ia bertanya pada Umbu, mengapakah kedua tempat itu yang kau dekap....? Tentu bukan karena kedua tempat itu sama-sama indah sehingga olah jiwamu mudah muncul. Lalu kenapa, apakah karena di kedua tempat itu ada mahluk bernama Kuda, satwa pelari kencang sebagaimana di tempat asalmu wahai Umbu...? Dia tidak menjawab. Sepenuhnya hanya bisu. Sebab pertanyaan itu cuma ia simpan di benak untuk sang Umbu. Tak lama beberapa Remaja membaca penggalan puisi sang Umbu "Percakapan Selat" dengan manis. Seperti yang sudah kamu tebak (katanya pada saya dalam emailnya), dalam arasemen musik indah. Ya musikalisasi puisi.

Ya begitulah Umbu Landu Paranggi dalam catatan seorang sahabat jiwa saya. Sang Umbu, penyair hebat tapi sederhana (ada juga yang menyebutnya Tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia) lama bermukim di Yogya. Disana Umbu banyak melahirkan para penyair sehingga beliau dijuluki Presiden Penyair Malioboro. Kini Bali memanggilnya dan mendekap erat sang Umbu. Masih dalam catatan sahabat jiwa saya itu, akankah Umbu pulang kembali ke Sumba kampung asal...? Jawabannya tak seorangpun tau. Semoga saja.

Sebelum saya akhiri catatan sahabat jiwa saya tadi, tiba-tiba terdengar desah sang Umbu.......

Pantai berkabut disini, makin berkisah dalam tatapan
Sepi yang lalu dingin gumam berhantam di buritan
Juluran lidah nampak di bawah kerjab mata menggoda
dalam lagu siul, dimana-mana menghadang cakrawala

(Bait ketiga Sajak "Percakapan Selat" Umbu Landu Paranggi).

Tuesday, August 25, 2009

Gumaman Seekor Burung Lelah


Seekor burung termangu di langit biru sambil mengepakkan sayapnya. Sang burung terlihat lelah. Di langit itu, saat itu, ia terlihat cuma seperti sehelai daun yang terjatuh dari pohon. Dan, entah kenapa, saat itu sang burung lelah bergumam sendiri dengan gumaman tak lazim,

Ini duniamu, maka ceburilah meski lelah
Ini harimu, maka isilah meski lelah
Ini langitmu, maka kepakilah dengan sayapmu meski lelah
Ini semestamu yang juga semesta bersama, maka berbagilah meski lelah

Begitulah gumaman seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya di langit lepas, saat menuju sebuah rawa. Ya, mungkin itu cuma gumaman tak jelas seekor burung lelah. Mungkin pula itu hasil renungannya sepenuh hari diantara jeda-jeda kepakkan sayapnya yang lelah. Mungkin saja. Setidaknya sang burung tidak sia-sia mengepakkan sayap lelahnya, sebab ia masih bisa bergumam. Gumamannya jelas tak lazim dibanding gumaman para rahib dan ulama bijaksana disana. Entah kenapa itu terlihat begitu wajar, bahkan agak indah juga bernas bagi saya. Apakah karena dimata saya ia seekor burung lelah...? Entahlah. Saya cuma sedang terkesima pada burung lelah itu. Pada kelelahannya, ia bahkan masih bisa menghentakkan dunia. Semoga lelahnya segera sirna.

Gambar dari :
elated.com

Sunday, August 23, 2009

Dan Langitpun Tergetar


Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih dahulu kepada Rosi Atmaja, dengan komentar ringannya. Terimakasih mbak Elly, perhatianmu menggetarkan langit, heheheh, katanya. Itulah isi komentar Rosi takkala ia saya anugrahi award pada postingan saya sebelum ini. Jelas itu cuma candaan ringannya. Entah apa yang sedang dialami sahabat kita itu, biarlah menjadi bagian dari langkah pencarian makna dalam kehidupan, sebagaimana setiap kita juga mengalaminya. Paling tidak saya berterimakasih atas komentar yang membuat saya merenung tentang Langit yang Tergetar. Inilah ide awal tulisan ini. Terimakasih ya mbak Rosi.

Ya langit yang tergetar. Siapakah, dan apakah langit itu ......? Setiap orang mungkin berbeda memaknainya. Bagi saya pribadi langit (tentu saja bukan langit biru tinggi tempat khayalan kita kecil dulu) adalah sesuatu yang drajatnya paling tinggi, dimana pemilik semesta bersemayam. Apa yang kita pikirkan, kita harapkan, dalam doa dan langkah kita yang tulus ikhlas vibrasinya jelas tergetar ke langit yang saya maksudkan tadi. He, mohon maaf, saya menggali LoA lagi. Tapi itulah fakta yang saya rasakan.

Ya ada banyak hal yang menggetarkan langit. Semua hal yang kita lakukan baik positif maupun negatif yang berdampak bagi orang-orang di sekitar kita, apalagi bagi semesta ini, akan menggetarkan langit. Saya pernah menulis di status FB saya (saking jengkelnya dengan kehebohan pengepungan dan pembombardiran, terlebih penanyangan berlebihan sebuah rumah di temanggung berkaitan dengan penangkapan gembong teroris Nurdin M.Top, yang ternyata bukan) sebagai suatu kehebohan Ruar biasa...!. Mengepung rumah satu saja, hebohnya sampai ke langit, begitu komentar saya. Ya bagi saya itu adalah contoh nyata bagaimana perbuatan, tindakan kita manusia yang berlebihan dan tidak cerdas akan membuat menggetarkan langit, membuat sang Langit pemiliki semesta ini murka pada kebodohan kita. Terorisme memang harus diberantas, tapi kita harus memikirkan langkah cerdas dan bijakasana agar Sang Langitan tergetar dengan senyuman sehingga meridhoi langkah kita.

Saat seorang nenek-nenek menyebrang. Sambil tertatih-tatih dia berdoa dan berharap tulus agar seseorang membantunya menyebrang. Tiba-tiba saja sang nenek ditolong oleh pak Polisi yang sedang bertugas. Ini pun menggetarkan langit, langitpun tersenyum. Begitulah. Langit bisa tergetar dengan tersenyum indah atau sebaliknya tergetar karena marah dan murka. Contoh yang lain pasti banyak. Kejadian sehari-hari yang kita alami akan menghantarkan kita pada banyak contoh nyata di alam nyata ini.

Bila saat ini ada seseorang yang sedang melepaskan doa dan harapan dengan tulus dan ikhlas, saat sedang berdzikir atau saat sedang melangkah, melakukan suatu perbuatan, maka itupun akan menggetarkan, langit tersenyum indah. Sebaliknya bila ada diantara kita selalu berpikir, bersikap dan berbuat negatif, maka langitpun akan tergetar murka yang getarannya akan menimbulkan kerugian bagi kita sendiri. Oleh karena itu, mari kita getarkan langit agar tersenyum dengan niat, doa, harapan dan perbuatan positif kita di dunia ini. Demikianlah perenungan pagi ini. Perenungan yang tentu belum usai. Anda pasti punya pengalaman dan pemahaman sendiri, mari kita renungkan bersama. Selamat pagi, semoga hari yang barokah menjadi milik kita semua.

Saturday, August 22, 2009

Bongkar Award di Bulan Penuh Rahmah

Sesungguhnya dunia dan segala isinya cuma kampung kecil, tempat persinggahan sementara. Sebagaimana sebuah kampung yang kecil, kita ditakdirkan bertemu di jagad ini dengan segala warna dan nuansanya. Semoga persinggahan kita di kampung kecil bernama dunia ini menjadi penuh makna. Tadi sehabis makan sahur dan sholat shubuh, saya menyempatkan diri membuka-buka lemari award saya. Hm....sudah lumayan banyak. Baiklah agar hari pertama bulan ramadhan ini membawa berkah buat kita semua, sayapun memajang award persembahan dari para sahabat tercinta di jagad blogosphere ini.

  • Award dari Fanda (Jum'at, 7 Agustus 2009 Blogger manis berkacamata yang bookaholic ini menganugrahi saya award keren ini



Ini pinky award yang keren dari bu Arsitek kita dari Yogyakarta.




  • Award dari Fanda lagi (15 Agustus 2009)



Award keren ini dianugrahkan oleh sang Cerpenis yang juga seorang notaris kita ini
kepada para sahabatnya dalam rangka genap setahun berkelana di dunia maya. Award ini
disemati puisi manis,

Inilah persembahan dari hamba
bukan sekedar fatamorgana
media cetak wadah karya hamba
walau tak semua tampil ke muka
kiranya cukup memuaskan jiwa




Begitulah award yang telah dianugrahkan oleh para sahabat tercinta. Supaya membawa berkah, memanjangkan amal dan pahala sahabat-sahabat tercinta tersebut, izinkan saya menganugrahkan award tersebut kepada sahabat tercinta yang lain, yaitu:

  1. Nelli_l_yunara
  2. Sang pencari Makna, Rosi Atmaja
  3. Yans"dalamjeda"
  4. Dinoe
  5. hari Lazuardi
  6. mas icang
  7. BrenciA KerenS
  8. safira
Mohon diterima, dan silahkan dipajang di blognya. Demikianlah. Semoga hari ini keberkahan menjadi milik kita semua. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi saya dan bagi semua sahabat yang menjalankan. Have a great ramadhan.

Thursday, August 20, 2009

Newsoul dan Bejo, Cinta Yang Tiada Tara

Tiba-tiba saja ide tulisan ini melintas di kepala, saat adzan Isya tadi berkumandang. Maka setelah beres melantunkan janji dan harapan dan doa padaNya, sayapun membuka notebook butut ini. Mumpung ide dan mood sedang mengalir hangat di kepala. Shretttt......kolom newpost dibuka. Judul pun dituliskan di kolom Title...."Newsoul dan Bejo, Cinta Yang Tiada Tara"

Ini tentang sesuatu yang melekat kuat antara saya dan Bejo saya. Ya beberapa hari ini kami runtang-runtung bersama di sela-sela jam kerja. Kadang dia menjemput saya di kantor untuk makan siang. Dia menjemput lagi sepulang kantor, lalu raun-raun menghabiskan sore bersama. Tadi siang menjemput saya di acara Rapat koordinasi yang sedang saya ikuti. Makan siang bersama di tempat favorit kami berdua. He, sesuatu yang beberapa bulan ini jarang kami lakukan mengingat kesibukan kami masing-masing. Entah kenapa, beberapa hari ini kesempatan dan niat selalu ada, timingnyapun tiba. Begitulah. Cinta itu terasa tiada taranya. Seperti putih sang Wijaya Kusuma.

Tara, jelas itu bukan mahluk, bukan benda. Hanya ungkapan tentang nilai. Ya tentang sesuatu yang menyatakan seberapa berhargakah suatu benda, atau seberapa berharga kondisi yang melingkupi hubungan antar mahluk. Entahlah. Tentu sesuatu menyangkut nilai ketaraan sangat subjektif sifatnya. Bervariasi antar kita manusia. Yang jelas mengapung di benak saya adalah...., cinta antara saya dan Bejo saya dalam RT kami tiada tara. Suka duka telah kami lalui bersama. Dan itu semua tiada tara. Hal yang saya tidak tau pasti adalah....sampai kapankah kami berdua akan dikuatkan, diarungi oleh ketiada taraan itu. Sampai dimana ketiadataraan itu akan menyatukan kami. Rasanya ketiadataraan itu akan terus berasama saya dan Bejo saya, apapun yang terjadi. Meski maut memisahkan kami, meski sesuatu merubah hubungan kami. Wallahu'alam.

Saya masih menatap layar notebook ini, saat lagu kegemaran saya mengalun dengan beat yang saya suka, Lenny Kravitz dengan It Ain't Over Till It Over. Ketika si Kravitz merampungkan lagunya, saya tiba di paragraf ini. Makna ketiada taraan itu jadi semakin sempurna di benak saya. Hm...sensasinya maknyus terasa dan hiks, sesuatu mengalir dan terasa hangat di kedua sudut mata saya. Demikianlah tentang Newsoul dan Bejo, Cinta Yang Tiada Tara. Selamat malam semua. Sampai jumpa. Bisik angin di sisi kanan saya berkata, kisah ini masih akan dilanjutkan. Silahkan direnungkan bila anda berkenan.

Alhamdulillah, Gangguan Itu Pergi


Alhamdulillah, gangguan itu pergi
Semoga tidak datang lagi
Semoga sang duka sirna kini
Semoga semangat kembali mengisi hari

Malam ini merangkak ke dini hari. Maafkan sekedar menyapa tentang kelegaan karena gangguan telah pergi. Sudahlah, allhamdulillah. Mari sambut kedatangan sang pembawa rahmah. Marhabban ya ramadhan. Mohon maaf lahir dan bathin.



Monday, August 17, 2009

Kemerdekaan dan Bulan Ramadhan






Merdeka dan bulan Ramadhan yang suci bersih, dua makna yang berbeda tapi saling berkaitan bagi saya. Entah kenapa, tiba-tiba saja dua entry itu melintas di benak saya. Jelas tidak datang kebetulan. Itu melintas saat saya melihat suasana di sekitar saya. Dimana-mana dipenuhi bendera,poster, famplet, bahkan umbul-umbul. Dirgahayu kemerdekaan RI ke 64. Sementara nuansa yang lain juga muncul dimana-mana, poster dan famplet menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1430 H.

Saat saya pulang dari upacara Detik-detik kemerdekaan suasana itu muncul begitu kuat di benak saya. Di setiap sudut kota bendera dan poster kemerdekaan bemunculan. Di setiap penjuru dan sudut kota terlihat orang-orang sedang bersiap menyambut Bulan Suci Ramadhan. Sebelum menikung ke jalanan menuju rumah saya, saya melewati sebuah TPU. Orang-orang sedang mengunjungi makam keluarga dan kerabat, tradisi menyambut bulan ramadhan di kota saya. Suasana begitu gegap gempita menyambut kemerdekaan negara kita dan menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Tentu bendera, poster, dan umbul-umbul cuma benda artificial. Tetapi kehadiran benda-benda tersebut telah membawa saya pada perenungan akan makna sesungguhnya dari moment tersebut. Sungguh suasana itu membuat saya tersentak. Barangkali suasana itu, walau dengan kondisi yang berbeda, juga hadir di sekitar anda.

Bagi saya, merdeka yang sesungguhnya adalah saat kita merdeka atau terbebas dari perbuatan atau sikap yang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Belumlah seseorang itu disebut merdeka bila masih terbelenggu sistem nilai yang bertentangan dengan hati nuraninya. Belumlah merdeka seseorang bila masih berkutat dengan keinginan-keinginan semu yang bisa mendzolimi diri sendiri atau mendzolimi orang lain. Karena pada hakekatnya penjajah terbesar dalam hidup kita adalah nafsu kita sendiri. Dan sebentar lagi muslimin di indonesia akan memasuki bulan ramadhan, bulan penuh rahmah dan berkah. Semoga gemblengan bulan suci ramadhan ini bisa memerdekaan hati nurani kita, memerdekakan diri kita dari belenggu nafsu duniawi kita. Ya, nafsu duniawi yang selama ini mungkin telah membelenggu kita, yang seharusnya bisa kita kendalikan.

Dirgahayu kemerdekaan RI ke 64. Dirgahayu bagi kemerdekaan nurani kita. Mari kita merdekakan hati nurani, sikap dan perbuatan kita agar terbebas dari kedzoliman baik terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain dengan gemblengan bulan suci Ramadhan ini 1430 H. Mari masuki gemblengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan niat suci bersih. Secara pribadi, pada kesempatan ini saya mohon maaf atas segala khilafan yang tidak saya sengaja kepada seluruh sahabat di jagad blogosphere ini.
Begitulah sedikit harapan dan renungan tentang Kemerdekaan dan Bulan ramadhan di benak saya. Saya yakin anda punya pendapat sendiri tentang hal ini. Mari kita renungkan bersama.

Saturday, August 15, 2009

KehendakNya dan Kehendak Si Fana


Malam kembali biru sejak sore tadi. Meski bulan tidak memunculkan dirinya di langit, malam ini cukup indah dan syahdu. Kalau besok (masih tiba menjadi) hari minggu, maka malam ini disebut malam minggu. Sebagian anak-anak muda sedang asyik berkumpul dengan gitar dipetik. Sebagian lagi melakukan wakuncar ke rumah pacar masing-masing. Sementara itu, di sebuah tempat yang juga membiru, seorang laki-laki duduk terpekur di sebuah dermaga kayu, jauh dari keramaian. Laki-laki itu sedang merenung dengan renungan yang diberinya judul "KehendakNya dan Kehendak Si Fana".

Kira-kira inilah intisari renungan tersebut :
  • Si Fana baru saja mencuri di kampungnya sendiri. Selesai mencuri si Fana berkata kepada para tetangga dengan enteng sambil mengepulkan asap rokoknya. Yah sudahlah. Kita harus pasrah menerima kenyataan, semua ini kehendakNya.
  • Si Fana baru saja mengganggu temannya. Setelah temannya menyatakan rasa tidak sukanya atas gangguan itu, dia berkata dengan santainya, tenang man, semua ini kehendakNya.
  • Si Fana pemalas, tidak mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Ketika akhirnya gagal, dengan pasrah si Fana berkata, semua ini kehendakNya, sambil bergumam "nasib oh nasib"
  • Si Fana baru saja membom sebuah hotel, menimbulkan banyak korban jiwa dan luka. Kejadiannya begitu mencekam dan menggenaskannya. Setelah itu diapun berkata dengan tegasnya, semua ini kehendakNya.
  • Si Fana sedang dirayu si Fulan koleganya. Koleganya mengatakan sedang proses selesai dengan istrinya dan menginginkan si Fana. Si Fanapun terpincut pada koleganya, lalu tanpa malu-malu mencari tahu, menanyakan tentang koleganya kepada istrinya. Ketika istri si Fulan menyatakan tidak mau diganggu dan dilibatkan dengan urusan mudharat itu (yang tentu tidak sesuai dengan kehendak si fana), maka diapun berkata saya juga tidak perlu tau. Cukuplah tau dariNya yang yang memberi petunjuk. Saya selalu sholat malam, sholat istikharah dan berdoa kepadaNya. Saya pasrahkan saja semuanya padaNya. Semua ini kehendakNya (kalau pasrah, sudah sholat malam, sudah selalu berdoa minta petunjuk, kenapa masih harus mengusik orang, kenapa masih tanya-tanya...!?)
  • Si Fana ingin merebut kemenangan atas suatu kompetisi, lalu melakukan kecurangan disana-sini. Setelah berhasil, sambil tersenyum diapun berkata puas, semua ini kehendakNya.

Begitulah renungan si lelaki pada malam yang membiru ini. Sebuah renungan yang belum usai. Kita semua mungkin memiliki perenungan sendiri tentang hal ini. Ada banyak contoh lain yang sering kita temui dalam kejadian sehari-hari. Silahkan anda tambahkan sendiri. Sadar atau tidak sadar kita sering melakukan pembelokkan esensi kehendak kita yang kita kaburkan menjadi kehendakNya demi kepentingan kita sendiri. Pada akhirnya tentu semuanya adalah kehendakNya. Tetapi agar kata-kata itu tidak terjebak pada ego yang kita ciptakan sendiri, mari kita jujur kepada diri sendiri, jujur pada hati nurani kita. Mari mulai dengan sebuah pertanyaan, sudahkan kita berusaha mencapai kehendak kita dengan cara yang jujur, cara yang benar dan mulia ?

Di dunia yang fana ini, kitalah si Fana. Kita terlalu sering tidak bisa mengendalikan kehendak kita tanpa pernah memikirkan akibatnya bagi orang lain, bagi orang-orang di sekitar kita. Setelah itu dengan santainya kita akan berkata ini semua adalah kehendakNya. Demikianlah renungan sang lelaki kita. Apapun, setidaknya mari kita benahi kehendak kita. Mari berkehendak yang terbaik bagi diri sendiri, bagi lingkungan kita, dan bagi negara tercinta ini dengan cara yang benar. Mari kita renungkan bersama. Selamat malam semua.

Friday, August 14, 2009

Cinta Diantara Secangkir Kopi dan Teh


Secangkir kopi mengepul
Aroma khas
Rasa khas
Maknyus bagiku

Secangkir teh mengepul
Aroma khas
Rasa khas
Sedap bagi Bejo

Secangkir kopi dan secangkir teh
Bercinta di meja ini
untukku dan untuk Bejoku
Kamipun menjadi seru

Dia mempertemukan kopi dan teh khas ini
Di meja ini
Di tempat ini
Sampai nanti, entah kapan terhenti.


Postingan saat lelah, dari balik kepulan asap kopi dan teh
Gambar dari
www.gmagazine.com.au/features/1068/coffee-ver...

Wednesday, August 12, 2009

Kampung Kecil Bernama Dunia


Ketemuan yuk......!, begitulah sang pengisi Kehidupan mengirimkan pesan ke inbox FB saya tadi siang. Segera saja saya jawab, OK. Maka pada jam istirahat siang tadi bertemulah saya untuk pertama kali dengan sahabat saya ini, Nelli Lingga Yunara, blogger cantik (ibu dosen yang sekarang sudah dengan jabatan struktural di Polsri). Harap dicatat, sahabat saya yang satu ini, bukanlah sahabat yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya.

Sambil menyantap sop buntut, tempe penyet, pepes ikan, dan menyeruput es jeruk, kami tertawa lepas. Ternyata dunia ini memang kecil ya. Buktinya saya bertemu dengan sahabat saya ini. Nama kami hampir sama, tanggal dan bulan lahir pun persis sama, hobi yang hampir sama, dan sama-sama punya blog. Bagi saya pribadi, he, ini mekanisme LoA juga. Pada saat saya berharap ingin santai sejenak, bertemu dengan sosok ceria, setelah acara pindah ruangan yang membuat suntuk, hari ini juga saya bertemu dengan sosok tersebut. Dan pertemuan ini adalah anugrah dariNya. Sesuatu yang digariskannya terjadi.

Diantara celoteh riang sang Kehidupan tadi, saya menemukan sosok ramah yang sangat menikmati hidup. Enjoy your life, dont worry, be happy. Entah apa yang akan terjadi nanti, nikmatilah hidup, jalani dengan tulus ikhlas, jangan gundah, dan berbahagialah. Hm, saya jadi terkekeh sendiri. Ya, walaupun redaksi dan penekanannya berbeda, bukankah itu juga yang selalu saya katakan dalam blog saya. Sayangi dirimu, dengan cara yang jujur, adil, dan tulus, sebelum kita menyayangi sesuatu di luar kita. Sayangi dirimu dengan jujur dan ihklas, maka itu akan menghindarimu dari melakukan hal-hal yang tidak genah, apalagi hal mudharat yang merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.

Begitulah sekelumit pertemuan dalam Kampung Kecil Bernama Dunia. Dunia dan segala isinya ini cuma kefanaan yang melenakan. Dan kefanaan itu akan menjadi berkah bila hidup kita isi dengan melakukan hal yang benar, dengan cara yang benar, tidak menganggu orang lain, dan menimbulkan kemanfaatan. Demikian kawan pertemuan tadi siang dengan sahabat saya itu. Mari bangkit dan semangat menjalani hidup secara benar, tulus dan ikhlas dalam Kampung Kecil Bernama Dunia ini.

Tuesday, August 11, 2009

Sebuah Email Tiba Pada Sore Yang Bercahaya


Suatu sore yang bercahaya di suatu titik koordinat bumi. Cahaya sore itu tiba juga ke sebuah rumah nun jauh disana. Cahaya sore mengenai wajah sang pemilik rumah, seorang perempuan, yang sedang termangu cukup lama di sudut kamar menatap layar notebooknya tak berkedip. Serentetan huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat bermunculan bak rentetan peluru di drama penembakan seseorang yang diduga Nurdin M.Top dua hari yang lalu. Sebuah email tiba padanya. Itulah yang sedang ia baca pada sore yang bercahaya itu. Email dari seseorang yang menyebut dirinya Gadis Senja.

Tidak ada yang aneh dari email itu, kecuali bahwa ia sama sekali tidak mengenal siapa Gadis Senja sang pengirim email (entah darimana ia mendapatkan alamat email perempuan itu). Gadis Senja cuma mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang saat ini sedang menjalin hubungan kekasih dengan abang (begitulah gadis senja menyebutkan panggilan mesra kepada kekasihnya), yang menurutnya adalah suami perempuan itu. Kedekatan yang diharapkan gadis senja akan membawanya masuk dalam kehidupan suami perempuan itu, menggantikan perempuan itu, sebagai istri. Selanjutnya gadis senja mengatakan ia sudah tidak bisa menahan diri lagi, ingin tau segala sesuatunya mengenai sang abang. Satu-satunya orang yang diharapkannya dapat memberikan informasi tentang abang adalah perempuan itu sebagai orang yang selama ini sudah mendampingi hidup abang sebagai istri. Karena itulah dia memberanikan diri mengirim email itu padanya, seraya berharap agar RT perempuan itu dengan abang cepat terselesaikan sehingga ia bisa segera bisa menata kehidupan ke depan bersama abang. Begitulah inti dari email sang gadis senja yang cukup mendayu-dayu sore itu.

Perempuan itu masih termangu di depan layar notebooknya. Ia kehilangan rasa sejenak, mungkin ada sekitar sepuluh menit. Perempuan itu lalu menepuk wajahnya sambil mengucapkan "Astaghfirullahal'adzim". Cahaya sore masih menimpa wajahnya. Di sudut matanya ada sedikit air mata yang tertahan disana. Sambil menghela nafas dan melantunkan doa penenang hati perempuan itu lalu bangkit menuju kamar mandi. Cukup lama ia berada disana.

"Mohon maaf. Tidak ada yang bisa saya katakan tentang suami saya kepada anda karena saya sama sekali tidak mengenal anda. Suami saya sudah saya konfirmasi. Kata beliau dia tidak mengenal anda, dia tidak punya hubungan dengan seorang perempuan yang memanggilnya abang. Suami saya juga tidak pernah mempersilahkan siapapun untuk mengkonfirmasi apapun kepada saya. Itulah yang dikatakan suami saya. Tentu itulah yang musti saya pegang, bukan cerita anda".

Begitulah kira-kira inti email balasan perempuan itu kepada sang gadis senja. Yah itulah jawaban yang ia berikan, berpegang dari apa yang dikatakan suaminya. Selain itu ada sedikit nasehat sebagai sesama perempuan agar Gadis Senja berhati-hati menyangkut perasaan. Email balasan itu telah ia kirimkan di ujung sore yang bercahaya itu.

Hari ini sorenya juga bercahaya. Entah berapa sore lagi yang diperlukan untuk merenungkan kisah itu. Itulah kisah yang menimpa perempuan itu dua hari yang lalu. Perempuan itu adalah sahabat saya sejak kecil, orang dimana saya bisa berbagi rasa. Saat kejadian itu ia tuturkan kepada saya, justru saya yang menangis. Justru saya yang geram. Geram karena kejadian serupa meski tak sama sudah sering terjadi. Ada yang memanggil suaminya papa, ada yang memanggilnya sayang, ada yang memanggil suaminya yayang. Pelakunya bervariasi mulai dari pegawai puskesmas, istri orang yang, rekan se partai, sampai biduan OT. Dan sekarang pelakunya adalah sang gadis senja kita. Hal yang membuat saya geram, sahabat saya itu cukup tenang, tidak terpancing untuk membeberkan perilaku suaminya kepada pengirim email. Dan tetap saja masih percaya pada suaminya, astaga.

Yah, apapun yang berkecamuk di dada sahabat saya, sepenuhnya itu miliknya. Saya cuma bisa mendoakan agar sahabat saya itu dikuatkan dan dilindungiNya. Cuma masalah waktu, begitu yang dikatakan sahabat saya tadi. Yah semoga waktu bergulir dan memberinya kekuatan untuk mendapatkan hal yang terbaik. Semoga saja. Saya hanya bisa mendoakan sahabat sahabat saya itu.

Demikianlah kisah Sebuah Email Tiba di Sore Yang Bercahaya ini. Di sore yang juga bercahaya kemarin, saya tertegun menangisi ketegaran sahabat saya itu. Ketegaran yang membuat saya merasa jengah dan miris. Setiap manusia tentu berhak melakukan apa saja. Sahabat saya itu mungkin sedang menghayati perannya sebagi istri setia yang selalu memegang kata-kata suaminya. Dalam doanya yang penuh sahabat saya itu mungkin telah menyerahkan dirinya dan jiwanya padaNya demi mendapatkan kebaikan bagi dirinya, bagi RT nya, kebaikan yang betul-betul terbaik. Itulah yang dikatakannya pada sore yang bercahaya kemarin, sesaat sebelum kami berpisah.

Dan shubuh ini ketika cerita ini saya rampungkan, air mata saya menetes lagi menangisi sahabat saya itu, hiks..... (sambil mata saya memandang Bejo, suami saya yang masih asyik tertidur. Awas kalau kamu macam-maca Jo). Demikianlah. Silahkan direnungkan bila anda berkenan. Bila anda punya saran untuk sahabat saya itu atau untuk sang Gadis Senja pengirim email, silahkan dituangkan. Selamat pagi semua.

Sunday, August 9, 2009

Burung Yang Merasa Tersesat Di Negeri Kira-kira dan Duga-duga


Langit menggeliat lenggang dan rerimbunan dahan-dahan lembut membasuh di Negeri Kira-kira dan Duga-duga. Seekor burung tergagap panjang saat matahari sudah dibalik celah pepohonan. Entah mengapa, sebentuk pertanyaan menghentak-hentak bilik kalbunya. Apakah aku tidak tersesat..........?

Pun di tengah cakrawala biru saat melajukan sayap dengan kepakan gontai ataupun tegap. Ditengah rasa "memiliki arah yang benar" nan berkecamuk, ia sering tersentak. Masih dengan pertanyaan yang sama, apakah aku tidak tersesat..........?


Manakala getaran sayapnya merontokkan bulu saat riuh maupun saat hening. Ia menyadari, senyuman kepuasan semu ini tak seharusnya menyeringai sebab pertanyaan itu masih juga mengapung. Apakah aku tidak tersesat..........?


Kini saat sejenak istirahat dengan kaki yang ditekuk dalam diam dan hening iapun menyadari betapa masih beruntungnya ia selama ini telah dituntun dan diberiNya kesempatan menakar sendiri. Ia tertegun. Terimakasih telah Kau beri aku kesempatan untuk bertanya "Apakah aku tidak tersesat..........?"


Tiba-tiba boooom...!, dor-dor-dor dan doooooor !, ledakan dan rentetean letusan memekakkan telinga. Kehebohan dan keriuhan muncul di semua penjuru hingga ia ternganga dan tergagap lagi, lebih panjang dari sebelumnya. Pertanyaan itu pun muncul lagi, kini agak lain, apakah mereka tidak tersesat.......?


Begitulah kebingungan seekor burung yang terlepas dari kelompoknya. Kemarin ia bertengger pada suatu tempat yang sedang sangat heboh dan gegap gempita dengan ledakan dan peliputan seorang manusia yang sangat Top (konon bernama depan Nurdin). Burung itu begitu terkesima pada kehebohan yang dilihatnya di negeri Kira-kira dan Duga-duga itu. Pemandangan yang membuatnya merasa miris. Mudah-mudahan yang diduga Nurdin M.Top itu benar dia adanya hingga segala kekacauan selama ini timbul di negeri Kira-kira dan Duga-duga ini bisa terhenti.


Perjalanan ini begitu melelahkan tapi harus dilanjutkan, gumam burung itu lagi. Tak lama, burung bermulut besar, bermata indah tapi tatapannya hampa itu, melanjutkan kepakkan sayapnya lagi. Selanjutnya, masihkah ia menggumamkan pertanyaan, apakah aku atau kita tidak tersesat.....? Entahlah. Semoga saja tidak.

Thursday, August 6, 2009

Angin Datang Bawa Cinta Centhini



Seorang lelaki duduk menelikung sendiri di sebuah kamar. Datang angin dari balik tingkap di ketinggian tembok kamar itu. Tiba-tiba sapuan angin melembutkan jiwa, setelah ia melembutkan otot rahang si lelaki yang sedang resah sendiri. Malam itu sunyi sepi.

Entah dari pintu, jendela atau bahkan tingkap tadi seorang perempuan yang dikenali lelaki itu sebagai Centini tiba-tiba masuk ke kamar itu. Centhini, ya Centhini. Ia datang menemani si lelaki nan sendiri di sunyi sepi kamar itu. Centini tersenyum lembut, nyaris seperti tidak tersenyum. Centhini mendekat taburkan aroma cinta kekasih. Centhini mengusap wajah si lelaki sambil memandangnya dengan pandangan penuh, dalam dan teduh.

Lelaki itu terkesima, ia bersuka cita, ia terlihat begitu berbahagia, ia mabuk Centhini. Beberapa puluh detik setelah ia larut dalam suasana bahagia bersama Centini, iapun tersadar bahwa tidak ada perempuan bernama Centhini bersamanya. Sedari tadi ia cuma sendiri di kamar itu. Di tangannya sebuah sobekan kertas (dari buku lama) berjudul "Kekasih, (Dari Serat Centhini)" terpegang erat.

Sayup-sayup ingatan si lelaki kembali mengapung pada beberapa penggalan kata yang dibacanya dari sobekan kertas itu,

Kekasihku
Tahukah siapa dirimu yang sesungguhnya
Kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal Tuhanmu
Jangan engkau resah atas ujian hidupmu
karejna ia yan tidak mengenal ujian di dunia nyata ini
tidak akan mmengenal ke AkbaranNya
Maka bacalah rahasiaNya di dalam dirimu sendiri
sebab kamulah wujudNya yang cemerlang
dalam dirimulah bersembunyi kisahNya
Palingkanlah wajahmu ke dunia yang tampak
karena Dunia ini adalah wajahNya

Kekasihku
Di jalan ada perjumpaan dan sua kembali
Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri
Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk
dan kamulah tembang raras Suluk itu
Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara dalam dirimu
Melalui dirimu dan cintamu
kumengenal diriku, kumengenal Tuhan
Kini kusiap memalingkan wajah ke dunia yang tampak

Kekasihku
Hening adalah guru yang menarik diri beserta kitabnya
karena, meski dia yang memulai tembangnya
engkau sendirilah yang harus menyelesaikannya
Tanpa guru tanpa kitab
Inilah perjalanan menuju hakikat
"manusia tidur dan ketika mati, Ia malah bangun"
dan belahan jiwa menyambutnya
menuju perjalanan baru
menuju titah Sang Maha Semesta
Sang Maha Katresnan..........


Begitulah Centini dalam benak lelaki itu. Dalam jiwanya Centhini mengajarkan kelembutan, kebijaksanaan juga keagungan jiwa, bukan kejalangan seperti kata sebagian orang. Kata-kata dari serat Centhini itu begitu menohoknya. Dan....lelaki itupun menangis dalam gelap.


Palembang, 6 Agustus 2009 (Untuk suamiku tercinta).

Wednesday, August 5, 2009

Lagi, Award Spesial Para Sahabat

Award dari Mbak Kuyus (17 Juli 2009)
Blogger misterius yang manis ini tiba di blog saya cuma meninggalkan pesan di kotak shoutmix, salam kenal katanya. Ternyata di blognya saya diberi award keren (yang pernah juga saya terima dari pembuatnya, inuel). Di dalamnya tulisannya terselip sebuah pesan moral, kebaikan apakah yang sudah anda berikan hari ini ?





Award dari
Andie Gokil (1 Agustus 2009)
Si super Gokil Andi nan ganteng, blogger muda yang super kreatif dari Pekanbaru ini menganugrahkan saya sebuah award spesial karyanya sendiri




Award dari mbak Reni ( Sabtu, 1 Agustusb 2009)
Seorang ibu yang bijaksana dan cantik, bloggerwati dari Madiun, yang juga membuat blog baru menganugrahkan saya sebuah award manis yang diperoleh mbak Reni dari sahabatnya.




Award dari mbak Fanda (Sabtu, 1 Agustus 2009)
Blogger cantik, seorang bookaholic yang sangat terkenal di blog saya ini, juga di blog-blog lain, menganugrahkan saya sebuah award hasil karyanya sendiri dalam rangka selamatan blog barunya "Curhat Fanda"


Award dari Sang Cerpenis bercerita (Sabtu, 1 Agustus 2009)
Bloggerwati top yang notaris juga cerpenis cantik berkacamata ini memberi saya award spesial hasil karyanya sendiri. Tentu orisinil, dan hm...kelihatan segar dan maknyus.







Award dari Ivan Kavalera (Minggu, 2 Agustus 2009).

Blogger ganteng, pengamat sastra sekaligus penyiar di Radio Cempaka Asri Makasar ini menganugrahkan blog keren, juga hasil karya sendiri, sastra radio award 2009



Award dari Dicky DUNIA POLAR (Senin, 4 Agustus 2009)

Blogger ganteng dari Surabaya yang baru muncul lagi setelah lama menghilang, tiba-tiba datang memberi saya award karya spesialnya yang sangat keren. Dalam rangka pamitan katanya,, semoga tidak lama perginya ( pamit kemana sih Dick...? ).





Terimakasih saya ucapkan kepada para sahabat yang telah menganugrahkan saya award-award spesial tersebut. Semoga kebaikan ini bisa kita teruskan. Semoga persahabatan ini memberi keberkahan bagi kita semua


Selanjutnya award-award keren di atas saya persembahkan kembali kepada sahabat blogger yang lain, yaitu:

Harap diterima dengan ikhlas, dan silahkan dipajang di blognya. Demikian sahabat, selamat malam.

Merenungi "I Love You Full" Mbah Surip


Cinta, apalagi yang bisa membuat dunia ini tenang selain dia. Cinta bisa membuat orang lega, senang, dan tentu saja bahagia. Maka cintailah diri kita sendiri, cintai orang-orang di sekitar kita, cintai dunia ini. Cinta dengan sebenar-benar cinta. Cinta yang jujur, cinta yang penuh. I love you full...., seperti pesan almarhum Mbah Surip.

I love you full. Maknanya bisa berbeda-beda pada setiap kita. I love you full, bagi saya, lebih berarti cinta yang tulus, keperdulian/empati yang ikhlas pada sesama. Bila setiap kita mengumandangkan I love you full dalam benak kita, maka dunia ini aman, tenang dan tentram. Tidak akan ada lagi teror, ketakutan, dan chaos bekepanjangan. Dan Mbah Surip, sang seniman Reggae pengelana telah mengajarkan pesan indah "I Love You Full" tersebut.

Dunia ini fana. Pada akhirnya Si Fana akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hidup ini singkat, maka mari sebarkan cinta. I love you full.
Selamat jalan Mbah Surip, semoga arwahmu diterima disisiNya. Semoga kami bisa mengumandangkan I Love You Full milikmu itu dengan indah dan bersahaja. Yah semoga saja.


Tuesday, August 4, 2009

Cerita Newsoul Pagi Ini

Seperti biasa, secangkir kopi menemani di tengah dinginnya pagi. Di langit timur warna jingga mentari yang baru akan muncul sudah terlihat. Di meja, selain kopi, ada secangkir teh buat si Bejo, juga sedikit roti dan serabi. Di pintu, loper koran melempar koran langganan, seperti biasanya. Di televisi, Reportase pagi sedang ditayangkan oleh stasiun tv biasanya.

Begitulah cerita pagi. Pagi ini sama seperti pagi-pagi yang lain. Hal yang membedakan adalah munculnya sedikit rasa pusing, juga bersin-bersin tadi. Itu cuma pertanda akan datangnya flu, gejala biasa juga kalau fisik sedang kelelahan. Kesibukan acara mantenan adik beberapa hari ini cukup melelahkan. Belum lagi pekerjaan kantor yang cukup menyita waktu.

Bagaimana dengan anda ? Pasti sedang sibuk juga dengan aktivitas pagi. Ya mari sambut pagi kita dengan penuh semangat. Di luar sana, ada hal indah sedang menanti kita. Hal yang mungkin tanpa kita tidak akan lengkap kejadiannya. Apapun itu, mari sambut dengan doa dan harapan positif. Semoga hari ini kesuksesan dan kebarokahan menjadi milik kita. Selamat pagi semua.